borobudur Borobudur Cultural Feast

BOROBUDUR CULTURAL FEAST- Hari Raya Kebudayaan Borobudur 2016

Suasana gegap gempita penuh jiwa semangat Gotong Royong mewujudkan gelaran acara 17-18 Desember 2016. Warga menyatu dalam satu gerak, satu langkah, satu tujuan: BOROBUDUR MONCER! Mandiri, saling bergotong royong, membangun benteng budaya, menjaga Borobudur sebagai perpustakaan ilmu pengetahuan perabadan dunia dan memulai gerak inovatif kreatif produktif  .

Lomba Lampion Gantung & Lomba Bregodo Prajurit Desa se-Kecamatan Borobudur, tampilan seni budaya desa  di Panggung Seni Desa 4 titik, semua bergolak menggeliat untuk menggapai sukses. Kemeriahan gotong royong menyeruak ke seluruh relung warga dusun Borobudur. Semua berperan pada posisinya secara otomatis dan alamiah. Bukan “aku” yang muncul tetapi “kita”. Program ini memang bukan dari ‘atas’ ke ‘bawah’ tetapi justeru kekuatan jiwa budaya ‘bawah’ yang menggumpal menyatu bangkit berdiri bergerak. Bak sang pertapa mengakhiri masa pertapaannya di dalam goa.
Tim Jaringan Kampung Nusantara yang dikoordinir Trie Utami, Tim Bakti Borobudur,Camat,para Kades  dll.,  sungguh tekun dalam hal keikhlasan dan ketulusan serta kesabarannya menemani proses kebangkitan Borobudur Moncer ini selama kurang lebih 3 bulan. Pintu gerbang Borobudur sebagai Taman Sari Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Dunia sudah terlalu lama ditunggu oleh masyarakat dunia. Mereka semua ingin hadir dan ada di Borobudur untuk belajar,belajar dan belajar dari masyarakat Borobudur. Belajar banyak hal tentang segala ilmu pengetahuan kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur pembangun Candi Borobudur sejak 1300 tahun yang lalu. Sungguh apresiasi tinggi atas kiprah PT Taman Wisata Candi Borobudur,Prambanan dan Ratu Boko bersama Sinergi BUMN Hadir untuk Negeri sebagai pendukung penuh atas sebuah program yang baru pertama kalinya digerakkan di komunitas warga Desa Borobudur, dan tentunya turut bertanggung jawab untuk menjaga serta mengurus  “hak intelektual” formal atas kemunculan Dawai Karmawibangga yang berasal dari panel relief Karmawibangga, setelah perahu Samodra Raksa terbukti mampu berlayar dan menggemparkan dunia.

Insiatif luar biasa diiring kerja keras dari Tim Japung Nusantara mengulik panel relief yang memunculkan gambar ” sosok bermain alat musik dawai ”  mereka tak berhenti,menganalisa ),membuat desain ulang,memroduksi ulang (Ali Gardy) dan membunyikannya! Dalam waktu tak lebih 1 bulan !  Dewa Budjana,Trie Utami,Redy Eko Prasetyo, Argo dan Ganzer Lana dan di jl Bausasran 56 Jogja hari Senin tgl 5 Desember 2016 berkutat  bertukang memasang snar dengan berbagai eksperimen agar dawai dapat berbunyi.
Sebelum akhirnya terciptalah oleh mereka musik SOUND of BOROBUDUR malam harinya di Studio River Side Resort Desa Boyong lereng Merapi . Sebuah musik bak telor emas yang lahir dari perut Borobudur siap menggema kesuluruh dunia membawa pesan damai, peradaban dalam kebhinekaan. Masyarakat Borobudur dapat melakukan penghidupan kembali ribuan inspirasi dari  atefak relief menjadi karya nyata yang sangat bermanfaat bagi dunia pada era kekinian. Semua warga tersenyum  bahagia, menyingsingkan lengan baju, saling berbagi, saling menyapa, saling membantu, saling belajar. Kawasan  Borobudur adalah akademi kehidupan alam, terlalu banyak misteri pustaka ilmu yang belum terkuak.   “pengorbanan”  tak seberapa yaitu pengelolaan ego pribadi dan sektoral yang selama ini ada akan berwujud kekompakan gotong royong,kerendahan hati,  jiwa ikhlas untuk berbuat laku lelaku yang akan menjadi alat utama untuk menguak dan ” memanfaatkan” Borobudur sebagai harta karun bangsa terpendam tak ternilai. Perhelatan ini  terukur sukses bukan pada tgl 17-18 Desember 2016  tetapi justeru setelahnya yaitu bagaimana masyarakat Borobudur akan selalu merayakan Hari Raya Kebudayaannya setiap hari tiada henti. Bahu membahu gotong royong.
(Salah satu Pemrakarsa KRMT Indro Kimpling Suseno)