dawai-borobudur-7
Borobudur Cultural Feast kreatif borobudur

BOROBUDUR BERGAUNG

Sejak tahun 824 Masehi saat peresmian Candi Borobudur , pada bagian panel reiief Karmawibhangga ternyata  tergambar dengan jelas beberapa orang memainkan alat musik yang sangat khas. Alat musik itu berdawai dan dipetik dengan jari , ada 3 gambar alat musik berdawai . Dan ada 2 gambar alat musik tiup yang memiliki bentuk sangat khas. Selain ada juga alat musik semacam seruling. Kedua jenis alat musik tersebut tidaklah mirip dengan alat musik dari India ,Thailand dan sekitarnya.
dawai-borobudur-3
Justru yang mengejutkan, kemiripan alat musik dawai dan tiup itu ada di kampung Dayak Kalimantan. Jenis berdawai disebut Sapèk dan jenis tiup disebut Keledi. Sangat mirip memang ! Kata Gregorius Argo mahasiswa ISI Jogja asal kampung Dayak Kalimantan . Dia menceritakan ” Alat musik Keledi sudah hampir musnah. Tidak ada toko yang menjual alat musik itu. Dan pembuatnyapun berada di kampung jauh di atas gunung yang tidak mudah diketahui dimana tepatnya. Luar biasa ! Ternyata alat musik itu ada kemiripan dengan yang ada di relief Candi Borobudur. Alat musik Keledi sangat sulit membuatnya , bisa dikatakan sudah menggunakan ‘teknologi khusus yang berbasis alam ‘ . Kalau untuk alat musik Sapèk ,sampai sekarang masih banyak digunakan sehari-hari.
dawai-borobudur-5
Pada suatu saat malam menjelang dini hari di jl Bausasran 56 Jogja , Trie Utami, Redy Eko Prasetyo,Bachtiar Djanan dan Indro Kimpling Suseno masih bersemangat diskusi membahas relief Candi Borobudur. Tiba tiba semua terfokus pada alat musik yang tergambar di relief Candi Borobudur. Terutama Redy dan Trie Utami yang akhirnya mereka menggagas rumusan kelahiran Sound of Borobudur yaitu tantangan untuk memainkan kembali alat musik yang ada di relief itu. Alat musik itu dibuat lagi persis seperti tampak di relief oleh Ali Gardy pemain dan pembuat dawai asal kampung Langai Situbondo. Bergabunglah Dewa Budjana yang memberi warna komposisi musik sangat harmoni bernuansa spritual. Didukung Argo yang asli Dayak, Ganzer Lana yang asli NTT dan Febry yang asli Jawa. Lengkaplah sudah komposisi pemain musik Nusantara yang akan melahirkan Sound of Borobudur.
dawai-borobudur-4dawai-borobudur-6
Kelahiran Sound of Borobudur memiliki makna yang sangat kuat untuk melongok kembali ‘ limu pengetahuan’ karya leluhur pada tahun 700 an Masehi.Ide menciptakan alat musik itu sangatlah perlu untuk dipelajari oleh siapapun warga bumi ini terutama kita sebagai keturunannya. Penciptaan nada,pengolahan komposisi, tema dan penulisan liryk lagu, komposisi pemain , teknik pementasan, cara  pembuatan peralatan musik, bahan baku pendukungnya, perencanaan teknis fisik,  teknik penjiwaan berkesesenian, dan masih banyak hal lagi yang bisa kita ungkap dari warisan ‘ ilmu pengetahuan musik warisan leluhur sejak 1300 tahun yang lalu di wilayah pusat pulau Jawa ini. Semua ini terwujud dalam sebuah perjalanan laku kegiatan Borobudur Cultural Feast  yaitu membangun kembali rajutan Gotong Royong masyarakat desa Borobudur untuk meraih kemandirian budaya laku dan lelaku demi untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan yang berkeadilan.Perayaan Kebudayaan Borobudur hari Sabtu & Minggu tgl 17 – 18 Desember 2016 sungguh diharapkan sebagai momentum membuka kotak pandora ilmu pengetahuan yang selama ini tersimpan rapi di dalam Candi Borobudur. Perhelatan ini didukung sepenuhnya oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko. ( KRMT Indro Kimpling Suseno )