borobudur

PERTANYAAN BESAR! BAGAIMANA PARA LELUHUR MENYUSUN “RENCANA” PEMBANGUNAN BOROBUDUR?

BOROBUDUR Sebuah bangunan batu berukir megah berdiri, Candi megah ini dibangun sekitar tahun 700 an Masehi, diresmikan tahun 824 M dan sampai tahun 2016 masih kokoh berdiri. Maka selalu muncul dibenakku pertanyaan besar selalu membuat galau. Siapa yang memimpin rapat pertama menggagas ide membuat Candi Borobudur? Bersama siapa saja? Di mana? Sekaya dan sekuat apa secara finansial sang empunya ide membangun Candi Borobudur? Bagaimana menentukan waktu kumpul rapat dan mencatat hasil rapat? Bagaimana membagi penugasan? Bagaimana menyusun rencana? Urusan survey tempat, urusan SDM, urusan gambar struktur, urusan arsitektur, urusan anggaran, urusan logistik, urusan schedule,urusan tempat pos-pos pengerjaan? “Katanya” membangun Candi Borobudur melibatkan ahli arsitek seni spiritualis Silpin dari India,Thailand dll. Siapa yang mencari? Bagaimana kontraknya? Sementara di negara-negara itu tak ada bangunan Candi sebesar Borobudur?

 

2336220351_9cfe9c36fa_o
source foto: indahnyaborobudur.blogspot.com

Bagaimana “action plan” membuat Candi Borobudur? Batunya dari mana? Seperti apa? Bagaimana cara mengangkutnya? Bagaimana cara memotongnya? Bagaimana cara memahatnya? Seperti apa peralatannya? Bagaimana membuat desain arsitektur untuk 2672 panel relief? 100 lebih pancuran air? 504 patung stupa? Jutaan blok lantai dan dinding? Bagaimana rencana dan praktek cara membuat ikatan batu berat puluhan kilogram berjumlah jutaan blok terkait dengan kuat hanya dengan teknik sambungan ” ekor burung”? Sekali lagi bagaimana para leluhur menyusun “rencana” itu semua?

2672 panel relief terdiri dari 1212 panel relief dekoratif dan 1460 panel relief kisah (160 panel relief Karmawibhangga & 1300 panel relief kisah di level Kamadhatu, Rupadhatu dan Arupadhatu. Bagaimana menentukan draft kerangka desain? Penggolongannya? Seleksi kandungan isi cerita relief? Bagaimana mewujudkan draft desain itu? Hanya lewat pembicaraan? Atau tergambar di lontar? Atau secara telepati? Atau langsung di pahat hanya dengan pengarahan makro? Siapa yang bertanggung jawab atas pekerjaan itu? Dimana mess atau asrama pekerja? Bagaimana logistik konsumsi dan akomodasi? Apa menu makanan dan minuman saat itu? Apa alat makan saat itu? Bagaimana sistim sanitasi? Apa hiburan masyarakat waktu itu?

 

Candi Borobudur dibangun dari 60.000 M3 batu andesit basalt, lebih dari 2.000.000 blok batu rata-rata berat 50 kg artinya lebih dari 100.000 ton. Apa ukuran berat dan panjang saat itu? Apa alat penimbang batu? Apa alat ukur nya? Apa alat ukur jarak jauh untuk mengukur kontur tanah?
Bagaimana semua itu mencatatnya? Bagaimana sistim penerangan saat itu? Berapa orang mengerjakan Candi Borobudur saat itu?

Candi Borobudur ukuran panjang x lebar : 123 m x 123 m , tinggi 42 m aslinya termasuk chattra, terdiri 10 undak/tingkat. Bagaimana mengukur penentuan garis poros lurus Gunung Merapi, Candi Mendut, Candi Pawon dan Borodudur?

borobudur-travelSource foto: Rindra Travel

Bangunan seperti itu untuk tahun 750 M di tengah pulau Jawa mungkin tergolong Super Mega Proyek. Hanya ada satu-satunya di dunia bangunan raksasa unik ini. Di mana data-data proses itu? Seolah hilang tak berbekas? Siapa yang tertantang untuk mencari data-data itu semua? Karena kandungan data proses pembangunan itulah sesungguhnya “ilmu pengetahuan” tingkat tinggi yang dimiliki dan dikuasai luluhur kita semua. Yang mestinya ilmu itu kita warisi ,kira kuasai dan kita kembangkan sampai saat ini.

Kalau Candi Borobudur sejak dirancang para leluhur tahun 700 Masehi sampai tahun 2016 adalah Mahakarya yang diakui dunia satu-satunya . Bahkan Vatikan menempatkan Taman Sari Borobudur di area pusat Vatikan awal Nopember 2016 lalu, bukankah seandainya kita mewarisi ilmu leluhur itu maka kita akan selalu berada pada masa kejayaan sepanjang masa?

borobudur-original-4746

Source foto: Thousand Wonders

Sekali lagi kita bicara konteks ” ilmu pengetahuan ” para leluhur yang sangat canggih pada waktu itu.
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan muncul dari orang lain, tetapi muncul dari dalam batin saya…selalu selalu dan selalu. Dan bertambah terus tiada henti. Justeru karena melihat semakin banyak orang dari berbagai penjuru dunia yang terkesima, terkagum, terpana kepada Candi Borobudur.
(KRMT Indro Kimpling Suseno)